Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

Monday, March 22, 2021

10 Info Keliru Tentang COVID-19 Yang Terlanjur Dipercayai

(Sumber: Source)
Kita telah ketahui bersama dari berbagai media belakangan ini di seluruh dunia terjadi  pandemi COVID-19. Menurut data dari WHO sendiri, sampai dengan tanggal 21 Maret 2020 telah ditemukan 266.073 kasus dengan kasus kematian mencapai 11.184. Di Indonesia sendiri, kasus COVID-19 hingga tanggal 21 Maret 2020 telah mencapai 450 kasus dengan kasus kematian 38 kasus. Hal ini, memunculkan rasa kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Akan tetapi, banyak dari kita “terlanjur memercayai” info keliru mengenai COVID-19 yang telah tersebar di masyarakat. Info-info tersebut akan saya bagikan kepada pembaca sekalian.

1. COVID-19 tidak dapat menyebar pada kondisi iklim yang panas
Pada faktanya, penyebaran COVID-19 tidak dipengaruhi oleh kondisi iklim di suatu tempat. Baik iklim panas atau lembab, COVID-19 akan tetap menyebar. Tanpa mempedulikan iklim di suatu tempat, cara untuk menghindari COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona adalah dengan tidak mendatangi daerah yang telah dilaporkan ditemukan COVID-19. 

2. COVID-19 adalah senjata biologis.
Di lingkungan masyarakat kita, sempat tersebar isu bahwa COVID-19 adalah senjata biologis yang diciptakan dari laboratorium. Hal ini tidaklah benar.  Virus penyebab penyakit COVID-19, tidak diciptakan dari laboratorium, melainkan melalui proses yang terjadi di alam. Hal ini telah dikonfirmasi berdasarkan analisis sekuensing genom dari SARS-CoV-2 yang selanjutnya dibandingkan sekuensing genom dengan virus lainnya oleh para ilmuwan.

3. Mandi dengan air panas dapat mencegah COVID-19
Tindakan ini tidak dapat mencegah diri kita dari COVID-19. Suhu normal tubuh kita berkisar antara 36,5 0C sampai dengan 37 0C.  Justru ketika kita mandi menggunakan air panas sampai dengan suhu ekstrim dapat berbahaya bagi tubuh kita. Tindakan pencegahan yang dapat kita lakukan sekarang cukup dengan mencuci tangan dengan menggunakan sabun.

4. COVID-19 dapat menyebar melalui  gigitan nyamuk.
Sampai saat ini belum ditemukan bukti bahwa COVID-19 dapat menyebar melalui gigitan nyamuk.  COVID-19 justru menyebar melalui cairan tubuh penderita yang terpapar penyakit ini. Penyebaran cairan tubuh pendrita ini dapat melalui batuk, bersin, ludah, dan cairan hidung. cara untuk menghindari penyakit selain dengan mencuci tangan dengan sabun, juga dengan menghidari kontak penderita batuk dan bersin.

5. Memakan bawang putih dapat melindungi dari COVID-19
Bawang putih adalah makanan sehat yang dapat berfungsi sebagai antimikroba. Namun, belum ada bukti yang menyatakan bahwa memakan bawang putih dapat melindungi kita dari COVID-19. 

6. COVID-19 hanya menginfeksi orang yang sudah lanjut usia
Virus SARS-CoV-2 dapat menginfeksi siapa saja baik orang yang sudah lanjut usia atau anak muda sekalipun.  Orang yang memiliki penyakit komplikasi lebih rentan untuk terkena penyakit COVID-19 ini. WHO menyarankan kepada kita dari berbagai kalangan usia dengan memproteksi diri dari penyakit COVID-19 dengan menjaga kebersihan tangan serta saluran pernapasan.

7. Antobiotik dapat melindungi kita dari COVID-19
Antibiotik tidak dapat bekerja terhadap virus, melainkan hanya bakteri. Sedangkan penyakit COVID-19 disebabkn oleh virus, bukan bakteri. 

8. Vaksin Pneumonia dapat melindungi kita dari virus SARS-CoV-2
Vaksin pneumonia hanya dapat meindungi kita dari penyakit pneumonia, bukan dari virus SARS-Cov-2. Virus SARS-Cov-2 tergolong virus baru sehingga vaksinnya masih dalam penelitian.

9. Menyemprotkan alkohol ke seluruh tubuh dapat melindungi dari penyakit COVID-19
Menyemprotkan ke seluruh tubuh tidak dapat melindungi kita dari virus tersebut, melainkan hanya membahayakan bagi tubuh karena alkohol tersebut dapat masuk ke tubuh kita (misalnya menyemprotkan ke mata atau mulut). Memang pada dasarnya alkohol termasuk cairan desinfektan, akan tetapi harus tetap dalam aturan dan takaran yang sesuai.

10. Meminum air garam dapat melindungi dari virus SARS-Cov-2 
Belum ada bukti bahwa dengan meminum air garam dapat melindungi diri kita dari infeksi virus SARS-CoV-2. Bahkan untuk penyakit infeksi pernapasan yang lainnya menggunakan air garam ini untuk mencegah belum memberikan bukti yang akurat.

Referensi:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters (diakses pada tanggal 22 Maret 2020)

https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease-COVID-19-22-maret-2020/#.Xnbw1_kzbIU (diakses pada tanggal 22 Maret 2020)

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports (diakses pada tanggal 22 Maret 2020)

https://www.sciencedaily.com/releases/2020/03/200317175442.htm (diakses pada tanggal 22 Maret 2020) 

https://www.genengnews.com/news/coronavirus-evolved-naturally-and-is-not-a-laboratory-construct-genetic-study-shows/ (diakses pada tanggal 22 Maret 2020)

Ketahanan Coronavirus di Udara serta Cara Mendisinfeksinya

Coronavirus
(Sumber:Source)
Coronavirus, begitulah namanya. Virus ini kita kenal menjadi sebab terjadinya pandemi COVID-19 yang melanda di seluruh dunia. Pada umumnya, makhluk yang “terkatogerikan” oleh para ahli sebagai virus ini tidak akan aktif ketika berada di luar tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, ketika virus ini berada di udara atau di luar tubuh makhluk hidup (inang), maka dia tidak akan melakukan aktifitas yang menunjukkan adanya kehdupan pada dirinya. Coronavirus memiliki kemampuan bertahan  di udara atau di luar tubuh makhluk hidup (inang) . Pada postingan kali ini, saya akan membagikan informasi terkait kemampuan bertahan virus di luar inangnya (udara) serta cara kita untuk mendisinfeksinya.

Di awal tahun 2020, para peneliti menguji ketahanan coronavirus ini di udara dengan menggunakan pegujian di berbagai jenis permukaan benda, seperti besi, aluminium, plastik, dan sebagainya. Para peneliti tidak hanya menguji ketahanan coronavirus di luar tubuh inangnya, mereka juga  menguji senyawa biosidal yang dapat dipergunakan untuk melakukan disinfektasi. 

Coronavirus yang menginfeksi manusia memiliki kemampuan dapat bertahan di suhu ruang (kurang lebih berkisar antara 200C sampai dengan 250C) hingga mencapai 9 hari. Suhu ruang yang mencapai 300C atau lebih dapat mengurangi kemampuan coronavirus untuk berada di udara. Bahkan pada jenis coronavirus yang menginfeksi hewan memiliki kemampuan bertahan di udara hingga 28 hari. Potensi besar yang menjadi sumber penularan coronavirus ini berada di permukaan peralatan atau benda-benda yang ada di fasilitas kesehatan (klinik kesehatan, puskesmas, atau rumah sakit). Meskipun begitu, pada lingkungan sekitar kita juga perlu diperhatikan karena bisa menjadi media penularan coronavirus ini. Terutama setelah menyentuh bende-benda di sekitar, jangan langsung menyentuh wajah kita tanpa membersihkan terlebih dahulu tangan kita. Dari data  yang ada, dalam satu jam kita dapat menyentuh wajah kita hingga 23 kali. sehingga kita perlu untuk melakukan disinfektasi pada benda-benda di sekitar kita untuk mengurangi peluang terjadinya penularan coronavirus ke tubuh kita.

Ilustrasi Mencuci tangan
(Sumber: Source)
Terdapat dua senyawa biosidal (baca: zat kimia) yang mudah untuk ditemukan dapat  menjadi bahan  disinfektasi,  yaitu natrium hipoklorit dan alkohol. Natrium hipoklorit ini dapat kita temukan di produk pemutih pakaian yang digunakan sehari-hari. Natrium hipklorit yang digunakan untuk melakukan disinfektasi pada coronavirus yaitu pada konsentrasi 0,1%. Adapun alkohol dapat digunakan untuk disinfektasi pada permukaan yang berukuran kecil dengan konsentrasi  pertumbuhan virus memiliki konsentrasi 62 % sampai dengan 71 %. Selain penggunaan dua senyawa tersebut,  langkah lain untuk mencegah penularan coronavirus ke tubuh kita adalah dengan menjaga kebersihan tangan.   

Referensi:


Kampf, G., D. Todt, S. Pfaender, and E. Steinmann. 2020. Persistence of coronaviruses on inanimate surfaces and their inactivation with biocidal agents. Journal of Hospital Infection. 104: 246-251


Dinamika Awal Penularan Penyakit COVID-19

Ilustrasi Penyebaran Covid-19
(Sumber: Source)
Pembahasan mengenai penyakit COVID-19, tampaknya menjadi hal menarik untuk dipelajari. Pada postingan ini saya akan membagikan kepada pembaca mengenai dinamika penyebaran awal penyakit COVID-19 ini.

Pada awalnya COVID-19 ini dinamakan sebagai NCIP (Novel Coronavirus-Infected Pneumonia). Kasus ini pertama kali dilaporkan pada 29 Desember 2019 di Selatan Cina, Wuhan. Tepatnya berasal dari pasar yang memperjualbelikan hewan hidup dan seafood yang terletak di distrik Jianghan. Kasus pertama kali yang berhasil dilaporkan berjumlah 4 kasus yang kesemuanya adalah orang-orang yang berkaitan dengan pasar Huanan tersebut. Gejala yang ditunjukkan oleh orang yang menderita NCIP, oleh rumah sakit lokal disebut menyerupai penyakit pneumonia yang belum diketahui penyebabnya. Selanjutnya, penyakit ini diberikan nama 2019nCOV yang nantinya berubah menjadi COVID-19.

Sumber data yang digunakan adalah orang-orang yang telah dikonfirmas memiliki demam di atas 380C, bukti radiogafi dari penderita,  jumlah limfosit atau sel darah putih yang rendah serta tidak adanya gejala setelah diberikan antimikroba selama 3-5 hari dengan petunjuk standar klinis. Pengambilan data tersebut dilakukan hingga pada tanggal 23 Januari 2020 sehingga diperoleh 425 pasien penderita pertama NCIP. Sampel pengujian di laboratorium diperoleh dari saluran pernapasan pasien atau penderitan yang kemudian dilakukan ekstraksi RNA dan di uji dengan RT-PCR (Reverse transcription polymerase chain reaction). Data yang diperoleh dilakukan analisis statistik distribusi probabilitas Weibull.   

Berdasarkan data dari 425 pasien yang telah dikonfirmasi menderita COVID-19, ditemukan usia rata-rata penderita penyakit ini adalah 59 tahun dan 56%-nya berjenis kelamin pria. Sebagian besar kasus  terkena COVID-19 terjadi sebelum tanggal 1 Januari 2020 yang berkaitan dengan pasar Huanan  dengan persentase sebesar 55% dibandingkan dengan 8,6% pada kasus COVID-19 selanjutnya. Rata-rata periode inkubasi adalah 5,2 hari. Pada tahap awal, peningkatan epidemi menjadi dua kali lipat setiap 7,4 hari. 

Dari analisis data yang telah dituliskan pada paragraf sebelumnya, diketahui bahwa semua kasus COVID-19 berawal dari kontak atau mernah mendatangi pasar Huanan yang terletak di distrik Jianghan. Pada perkembangan selnjutnya, penyakit ini dapat ditularkan dari satu manusia ke  manusia lainnya. Pada walnya setiap penderita penyekit ini dapat menularkan penyakit ini ke 2,2 manusia sehat lainnya. Berbagai upaya untuk mengurangi penularan mpenyakit ini perlu dilakukan guna mengendalikan wabah ini, jika data dari dinamika penyebaran awal penyakit COVID-19 di awal juga berlaku ditempat lain. Perlu dilakukan tindakan preventif untuk mengurangi penyebaran penyakit ini. 

Referensi:

Li, Qun, Xuhua Gan, et al. (2020). Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia. The New England Journal Medicine. 382(13): 1199-1207

https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-remarks-at-the-media-briefing-on-2019-ncov-on-11-february-2020 (diakses pada tanggal 26 Maret 2020)

Mengenal Lebih Dekat Struktur Kormosom Makhluk Hidup

Ilustrasi Kromosom Makhluk Hidup
(Sumber:Source)

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Pada kesempatan ini saya akan membagikan tulisan terkait dengan struktur kromosom. Ya, telah kita tahu bersama bahwa kromosom adalah “agen tempat bernaungnya” DNA yang berperan penting dalam pewarisan sifat. Kali ini saya akan memfokuskan pembahasan pada Kromosom

Kromosom sendiri dapat kita amati pada tahap metafase dari pembelahan sel. Alasannya, karena pada tahap metafase kromosom mengalami kondensasi (benang kromatin tergulung dan terlipat rapat). Akan tetapi,  pada beberapa bagian kromosom yang sedang mengalami kondensasi, ada bagian tertentu yang tampak menyempit dan disebut sentromer. Sentromer ini dapat terletak di berbagai tempat di kromosom, entah di tengah atau di ujung kromosom. Perbedaan letak sentromer menyebabkan adanya perbedaan bentuk kromosom, seperti yang terlihat pada gambar berikut. 

(Sumber: Sumner, 2003)
Berbagai Bentuk Kromosom karena Perbedaan Letak Sentromer
(Sumber: Sumner, 2003)


Sentromer ketika terjadi pembelahan sel menjadi tempat pelekatan benang sentriol yang selanjutnya akan menarik ke bagian pole atau kutub pembelahan. Keberadaan sentromer ini menyebabkan kromosom terbagi menjadi dua bagian (dua bagian tersebut disebut lengan kromosom), walaupun di beberapa kondisi ketika sentromer terletak di ujung kromosom menyebabkan kromosom hanya mempunya satu bagian (satu lengan kromosom). Pada kondisi yang lain, ketika sentromer tidak terletak tepat di tengah kromosom menimbulkan adanya perbedaan dalam panjang lengan kromosom yang terbentuk. Lengan kromosom yang panjang disebut dengan lengan q, sedangkan lengan yang lebih pendek disebut dengan nama lengan p. Panjang lengan p dan q ini juga dipengaruhi oleh letak sentromer seperti pada gambar sebelumnya. Pada beberapa kondisi, kromosom juga mengalami penyempitan kedua (selain sentromer) yang disebut sebagai satelit. ujung kromosom disebut dengan telomer. Mudahnya dapat kita lihat bersama pada gambar berikut.

Struktur Kromosom: (1) Kromatid; (2) Sentromer; (3) Lengan p; Dan (4) Lengan q
(Sumber:Magnus Manske - Nupedia, then en.wikipedia, CC BY-SA 3.0, Pranala)




Selanjutnya kita akan mempelajari kromosom lebih dalam lagi. Pada dasarnya, kromosom terdiri dari dua komponen dasar, yaitu protein dan DNA (deoxyribonucleic acid). Molekul DNA termasuk polimer yang panjang dan melilit pada suatu protein. Protein tersebut dikenal dengan nama protein histon. Ada empat jenis protein histon yaitu H2A, H2B, H3, dan H4. Keempat protein tersebut menjadi tempat melilitnya polimer DNA sehingga disebut dengan inner histone. Satu kumpulan protein histon dan pita DNA disebut dengan nukleosom. Selain keempat protein tersebut yang dililit oleh pita DNA, juga terdapat protein histon H1 yang tidak dililit oleh DNA. Selanjutnya, pita DNA, bersama dengan nukleosom dan protein histon H1 membentuk gulungan berganda yang disebut dengan kromosom. Jelsnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Struktur Penyusun Kromosom: (1) Kromosom; (2) Benang Kromatid; (3) Nukleosom; Dan (4) Rantai DNA
(Sumber:OpenClipart-Vectors dari Pixabay)


Referensi:

Irawan, Bambang. 2008. Genetika Molekuler. Surabaya: AUP

Sumner, Adrian T. 2003. Chromosomes Organization and Function. North Berwick: Blackwell Publishing

Transpor Zat Difusi dan Osmosis

Pada transpor zat, kita mengenal adanya difusi dan osmosis Difusi adalah gerak menyebarnya molekul dari daerah konsentrasi tinggi (hipertonik) ke konsentrasi rendah (hipotonik).  Molekul-molekul gas seperti oksigen dan karbon dioksida selalu bergerak sepanjang waktu, demikian pula molekul-molekul cairan atau zat lain seperti gula yang terlarut dalam air. Sebagai akibat dari gerakan ini, molekul-molekul itu akan tersebar merata mengisi ruang yang ada. Proses ini disebut difusi. Difusi dapat terjadi karena gerak acak kontinue yang menjadi ciri khas semua molekul yang tidak terikat dalam suatu zat padat. Tiap molekul bergerak secara lurus sampai ia bertabrakan dengan molekul lainnya. Pada setiap tabrakan molekul terpental dan melaju ke arah lain. Inilah yang menyebabkan gerak acak dari molekul tersebut. Berbagai ion dan molekul-molekul seperti glukosa, asam amino, asam lemak dan gliserol berdifusi lebih lambat. Molekul-molekul yang tidak bermuatan dan molekul lemak yang terlarut dapat bergerak melewati membran lebih cepat. Proses difusi gas, cairan atau zat-zat terlarut terjadi dari daerah kerapatan tinggi menuju daerah kerapatan rendah atau nol (mengandung sedikit molekul zat atau tidak ada), sehingga kerapatannya menjadi sama di mana-mana (Salisbury, 1995).

Kecepatan difusi zat melalui membran sel tidak hanya tergantung pada gradien konsentrasi, tetapi juga besar, muatan dan daya larut dalam lipid dari partikel-partikel tersebut. Tidak semua jenis molekul dapat bergerak melalui membran plasma dengan cara difusi. Molekul yang bersifat hidrofobik dapat mudah bergerak melalui membran plasma karena larut dalam lemak pada lapisan fosfolipid, sedangkan molekul-molekul yang lebih besar tidak dapat bergerak melalui membran plasma. Molekul hidrofilik yang berukuran kecil dapat dengan mudah berdifusi melalui membran plasma. Hal ini sesuai dengan membran sel yang selektif permiabel(Salisbury, 1995).

Molekul-molekul kecil seperti molekul H2O, CO2 dan O2 dapat dengan mudah dan cepat melalui membran, sehingga difusi cenderung untuk mempersamakan kerapatan atau konsentrasi molekul-molekul di dalam dan di luar sel sepanjang waktu. Misal pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 saat pernafasan, penyebaran setetes tinta dalam air (Santosa, 1990).

(Ilustrasi terjadinya difusi)

Macam-macam difusi :

1. Difusi dipermudah sengan saluran protein
Substansi seperti asam amino, gula, dan substansi bermuatan tidak dapat berdifusi melalui membran plasma. Substansi-substansi tersebut melewati membran plasma melalui saluran yang dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran yang dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran ini merupakan protein integral.

2. Difusi dipermudah dengan protein pembawa
Proses difusi ini melibatkan protein yang membentuk suatu saluran dan mengikat substansi yang ditransport. Protein ini disebut protein pembawa. Protein pembawa biasanya mengangkut molekul polar, misalnya sam amino dan glukosa(Santosa, 1990).

Osmosis berasal dari kata os yng artinya lubang dan move artinya pindah, maka osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutanyang kosentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang kosentrasi zat pelarutnya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semipermeabel (Lakitan, 1995).

Dapat dikatakan bahwa peristiwa osmosis adalah transfer solvent (dan bukan solut).Sedangkan peristiwa transfer solut, dikenal sebagai dialisis (arah aliran dari titik berpotensi solute tinggi menuju ke rendah). Prinsip osmosis adalah transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensi rendah) solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hypertonic solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti, atau malah berbalikarah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press.Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi. Komponen solvent murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen mengandung solute tinggi memiliki entropi yang tinggi juga(Lakitan, 1995).

(Ilustrasi Terjadinya Osmosis)

Plasmolisis merupakan keadaan membran dari sitoplasma akan terlepas dari dinding sel. Proses plasmolisis dapat diketahui dengan membran protoplasma dan sifat permiabelnya. Permiabel dinding sel terhadap terhadap gula diperlihatkan oleh sel sel yang terplasmolisis. Plasmolisis adalah contoh kasus trasportasi sel secara osmosis. Osmosis pada hakijkatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa difusi air melalui selaput permiabel secara diferensial dari suatu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. Tekana yang  terjadi karena difusi disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadiinya osmosis maka semakin besar juga tekanan osmosisnya. Proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang dengan masuknya air yang disebabkan oleh pebedaan konsentrasi (Campbell, 2008).


Referensi:

Campbell. 2008. Biologi Jilid I Edisi VIII. Jakarta : Erlangga.

Lakitan, B. 1995.  Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan.  Raja Grafindo Persada: Jakarta

Salisbury. F.B., dan C.W. Ross.  1995.  Plant Physiology. Ed. 4. Terj. Diah R. Lukman dan                                   Sumaryono. Jilid 1. p : 27 -127. ITB, Bandung.

Santosa. 1990. Fisiologi Tumbuhan. Fakultas Biologi. UGM.

Sunday, March 21, 2021

Penelitian Awal Mengenai Virus

Seiring dengan mewabahnya virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19, tampaknya tidak heran jika kita perlu mengetahui awal mula dari ditemukannya makhluk yang bernama virus. Virus ditemukan sekitar akhir abad ke-19 ketika tanaman tembakau saat itu terinfeksi penyakit mosaik tembakau yang menyebabkan daun memiliki bercak berwarna kuning.  Pada tahun 1883, Adolf Mayer, seorang ilmuwan dari Jerman menemukan bahwa penyakit mosaik tembakau dapat ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya dengan hanya menggosokkan getah yang diekstraksi dari daun tanaman tembakau yang sakit. Meyer kemudian mengusulkan sebuah hipotesis bahwa penyebab penyakit ini bakteri yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mikroskop. Hipotesis yang disulkan oleh Meyer ini selanjutnya diuji oleh Dimitri Ivanowsky, ahli biologi dari Rusia, pada tahun 1892 menyaring getah dari  daun tanaman tembakau yang sakit dengan menggunakan penyaring yang yang dirancang untuk menahan bakteri. Setelah disaring, getah tersebut tetap menimbukan penyakit mosaiki tembakau.   

Tetapi, Ivanowsky masih mempertahankan hipotesis Meyer yang menyebutkan penyebab mosaik tembakau adalah bakteri. Mungkin menurutnya bakteri tersebut berukuran sangat kecil untuk melewati filter atau menghasilkan toksin yang memengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau. Hipotesis ini kemudian gugur ketika ahli botani Belanda, Martinus Beljerinck melaksanakan serangkaian percobaan yang berhasil menunjukkan bahwa patogen dalam getah hasil saringan yang menginfeksi tanaman tembakau dapat bereproduksi. Skema percobaan oleh Beljerinck dapat dilihat pada gambar berikut. 

(Sumber: Reece et al)


Patogen yang diperoleh Beljerinck hanya dapat bereproduksi dalam sel inang yang terinfeksi berdasarkan percobaan lanjutan yang dilakukannya. Beljerinck menunjukkan bahwa patogen penyebab penyakit mosaik tembakau tidak dapat dibiakkan pada medium nutrien dalam tabung reaksiatau cawan petri. Beljerinck membayangkan bahwa patogen tersebut berukuran jauh lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan bakteri. Beljerinck ini selanjutnya disebut sebagai ilmuwan pertama kali yang menyuarakan konsep virus. Pada taun 1995, seorang ilmuwan Amerika, Wendell Stanley, melakukan kristalisasi terhadap patogen yang menyebabkan penyakit mosaik tembakau yang kini dikenal sebagai virus mosaik tembakau (tobacco mosaic virus, TMV)

Referensi:

Cann, Alan J. Principles of Molecular Virology. 4th Ed Ed. Elsevier: London

Reece, Jane B. et al. 2017. Campbell Biology. 11th Ed. Pearson education: United States of America

Reece, Jane B. et al. Campbell Biology. Edisi Kedelapan Jilid 1. Terjemahan Damaring Tyas                           Wulandari. Erlangga: Jakarta

Friday, March 19, 2021

Mengenal Percobaan Transformasi yang Buktikan DNA sebagai Materi Genetik

Ilustrasi DNA
(Sumber: Source)
Banyak dari kita telah mengetahui DNA yang berada dalam kromosom bertanggung jawab terhadap pewarisan sifat dari suatu organisme. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana DNA diketahui sebagai materi genetik dari makhluk hidup?”. Pada kesempatan ini saya akan membagikannya kepada para pembaca melalui tulisan ini. Salah satu penelitian yang memberikan bukti bahwa DNA sebagai materi genetik.

Percobaan transformasi ini diinisiasi oleh F. Griffith tahun 1928. F Griffith melakukan penginfeksian  bakteri Streptococcus pneumoniae kepada mencit dengan mengguakan dua strain berbeda. Perbedaan kedua strain ini terletak pada kapsul polisakarida yang memiliki fungsi melindunginya darimekanismepertahanan tubuh hewan. Kedua strain tersebut adalah strain S da strain R. Strain S jika ditumbuhkan di media padat akan terlihat halus dan mengkilap. Selain itu Strain S ini memiliki kapsul polisakarida, sehingga bersifat virulen (menimbulkan penyakit). Adapun strain R jika ditumbuhkan di media akan terlihat kasar,selain itu tidak memiliki kapsul polisakarida. Hal ini menyebabkan strain R bersifat avirulen. Kedua strain tersebut diinfeksikan ke mencit dan memberikan hasil yang dapat kita lihat pada tabel berikut. 

Jenis strain bakteri yang diinfeksikan
Hipotesis
Alasan
Hasil
Strain S
Mati
Menderita pneumonia
Mati
Strain R
Hidup
Tidak menderita pneumonia karena Strain R avirulen
Hidup
Strain S dipanaskan terlebih dahulu (mati)
Hidup
Bakteri tidak dapat menginfeksi karena sudah mengalami kematian
Hidup
Campuran strain S mati dengan strain R hidup
Hidup
Strain R avirulen dan strain S telah mati sehingga tidak menimbulkanpenyakit
Mati

Bagan Percobaan Griffith
(Sumber: Reece et al, 2008)
Data pada baris keempat tidak sesuai dengan apa yang dihipotesiskan di awal percobaan. Mencit yang diharapkan seharusnya hidup malah mengalami kematian. Setelah dilakukan identifikasi pada darahnya ditemukan adanya bakteri strain S.  Padahal sebelumnya diinjeksikan adalah campuran dari strain R yang avirulen dan strain S yang virulen. Hal demikian menyebabkan Griffith berkesimpulan bahwa ada perubahan (transformasi) dari sifat strain R menjadi strain S karena ada sesuatu yang dipindahkan dari strain S yang sudah mati ke strain R yang masih hidup. Namun kesimpulannya ini belum memberikan bukti mengenai keberadaan materi genetik. 

Pada tahun 1944, tiga peneliti, yaitu O.Avery, C. Macleod dan M. McCarty melakukan penelitian mengenai substansi yang dipindahkan dari strain S ke strain R melalui percobaan trannsformasi secara in vitro. Ketiga peneliti tersebut mengekstrak dari bakteri strain S yang telah mati  kemudian hasil dari ekstrak tersebut ditambahkan ke strain R yang ditumbuhkan di media padat. Selanjutnya bakteri strain R tersebut diberikan tiga enzim perusak yaitu DNAse (memecah DNA) , RNAse (memecah RNA), dan protease (memecah protein). Hasilnya adalah pada bakteri strain R yang diberikan enzim RNAse dan protease mengalami perubahan (transformasi) sifat sehingga menjadi virulen. Sedangkan bakteri strain R yang diberikan enzim DNAse tidak mengalami perubahan sifat atau dengan kata lain tetap bersifat avirulen.  Hal ini membuktikan bahwa substansi yang bertanggung jawab dalam terjadinya perubahan (transformasi) pada bakteri penumonia dan juga seluruh organisme adalah DNA.

Referensi:

Irawan, Bambang. 2008. Genetika Molekuler. Surabaya: Airlangga University Press

Reece, Jane B. et al. 2008. Campbell Biology. Edisi Kedelapan Jilid 1. Terjemahan Damaring Tyas Wulandari. Erlangga: Jakarta

Susanto, Agus Hery. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha Ilmu

Mengenal Tes Swab Untuk Buktikan Keberadaan Infeksi COVID-19 Pada Pasien

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Pada kesempatan ini saya akan membagikan  pengetahuan saya terkait tes swab yang oleh sebagian orang termasuk menjadi “momok” yang ditakuti di masa pandemi ini. Saya akan berusaha menjelaskannya dengan penjelasan yang mudah dipahami pada paragraf selanjutnya. Namun, sebelum saya memulai tulisan ini, perlu diketahui bahwa tulisan ini dibuat tanpa membela “kepentingan”  suatu pihak atau bahkan “membantah” penganut paham tertentu.

Ilustrasi Tes Swab
(Sumber:Doctor vector created by freepik - www.freepik.com)


Tes swab ini dapat diartikan sebagai sebuah tes yang digunakan untuk mengetahui bahwa seseorang tersebut terinfeksi suatu penyakit, dalam kasus ini  yang telah kita kenal dengan penyakit COVID-19. Selanjutnya bagaimana tes swab itu sendiri dapat mengidentifikasi keberadaan virus SARS-CoV-2 dalam tubuh seorang pasien? Tentu ini menjadi pertanyaan menarik selanjutnya. Check it out!

Kata “swab” sederhananya adalah alat yang digunakan untuk mengambil sampel atau bahan uji dari tubuh pasien. Alat yang digunakan untuk melakukan swab ini dapat bervariasi ukuran panjangnya, mulai dari yang pendek sampai ada yang panjang. Keduanya dapat digunakan untuk mengidentifikasi COVID-19.  Alat swab ini dimasukkan ke saluran pernapasan, tepatnya dimasukkan ke hidung atau tenggorokan atas. 

Selanjutnya hasil dari pengambilan sampel dengan alat swab ini akan dimurnikan dengan berbagai macam reaksi kimia sehingga diperoleh materi genetik virus, dalam hal ini adalah RNA virus SARS-CoV-2. RNA yang diperoleh ini diubah terlebih dahulu menjadi DNA komplemen (CDNA – Complementary DNA) dengan bantuan salah satu jenis enzim yaitu reverse transcriptase (transcriptase balik). CDNA tersebut selanjutnya di amplifikasi atau di perbanyak dengan menggunaan mesin PCR (polymerated Chain Reaction).  Hasil dari amplifikasi ini yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan infeksi virus SARS-CoV-2 dalam tubuh pasien.

Identifikasi keberadaan infeksi virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 dapat dikategorikan positif COVID-19 dan negatif COVID-19. Positif COVID-19 didasarkan dari hasil tes tersebut (rangkaian proses pengidentikasian virus SARS-CoV-2 pada paragraf sebelumnya disebut RT-PCR)  ditemukan adanya kesamaan dalam urutan basa nitrogen materi genetik sampel pasien dan materi genetik virus SARS-CoV-2. Adapun negatif COVID-19 diinterpretasikan berbagai macam hal, seperti pasien tidak menderita COVID-19; virus SARS-CoV-2 tidak ditemukan dari sampel yang diperoleh; sampel yang diperoleh memiliki kualitas yang buruk; atau virus SARS-CoV-2 lambat menginfeksi tubuh pasien. Karena banyaknya interpretasi dari hasil negatif COVID-19, menyebabkan pengambilan sampel pada pasien terduga COVID-19 tersebut dapat dilakukan berulang kali.     

Referensi:

https://www.cebm.net/covid-19/what-tests-could-potentially-be-used-for-the-screening-diagnosis-and-monitoring-of-covid-19-and-what-are-their-advantages-and-disadvantages/

https://www.iaea.org/newscenter/news/how-is-the-covid-19-virus-detected-using-real-time-rt-pcr
 

Fraksionasi Sel, Teknik untuk Mempelajari Struktur dan Fungsi Sel

Ilustrasi Sel Makhluk Hidup
(Sumber:Background vector created by brgfx - www.freepik.com)
Mayoritas dari kita telah mengenal struktur serta fungsi dari setiap komponen penyusun sel. Namun pernahkah terpikirkan di benakmu bagaimana para ilmuwan mengetahui struktur serta fungsi dari tiap komponen penyusun sel tersebut? Kira-kira metode apa atau teknik apa yang mereka gunakan untuk mengetahuinya?. Jawabannya adalah cell fractionation atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama Fraksionasi Sel. “Bagaimana itu Fraksionasi Sel?” Lengkapnya akan saya tuliskan di bagian berikutnya.

Fraksionasi Sel
(Sumber: Reece et al, 2008)
Fraksionasi sel dapat dikatakan suatu cara untuk mengetahui struktur serta fungsi dari komponen penyusun. Komponen penyusun sel tersebut adalah membran sel, dinding sel, nukleus atau inti sel, dan organel sel, seperti, ribosom, mitokondria, retikulum endoplasma, lisosom, badan golgi dan sebagainya. Fraksionasi sel bekerja dengan memilah komponen penyusul sel, organel sel sampai dengan struktur subselular lainnya. Teknik fraksionasi sel bekerja dengan menggunakan alat utama berupa sentrifus. Sentrifus adalah alat yang bekerja dengan cara memisahkan campuran dengan cara berotasi atau berputar. Adanya putaran atau rotasi ini memunculkan gaya sentrifugal yang menyebakan bagian komponen sel yang diinginkan membentuk endapan di dasar tabung reaksi yang digunakan. Ketika sentrifus berputar dengan kecepatan rendah akan membentuk endapan yang terdiri atas komponen sel berukuran besar. Sebaliknya jika sentrifus berputar dengan kecepatan yang lebih tinggi akan membentuk endapan yang terdiri atas komponen yang berukuran kecil.

Fraksionasi sel membuat para peneliti dapat menyiapkan komponen sel secara spesifik dalam jumlah banyak serta membuat para peneliti juga dapat mengidentifikasi fungsi dari komponen sel yang diperoleh. Tugas ini tentunya lebih sulit jika dilakukan dengan cara mengidentifikasinya dalam sel yang utuh. Sebagai contoh, ketika hasil uji biokimia terhadap suatu bagian sel yang diperoleh dari hasil sentrifugasi dikonfirmasi menghasilkan enzim yang terlibat dalam respirasi sel. Selnjutnya bagian sel yang telah dikonfirmasi dengan uji biokimia, juga dikonfirmasi dengan menggunakan mikroskop elektron, untuk mengetahui kandungan dari bagian sel yang diperoleh, ditemukan banyak sekali organel mitokondria. Gabungan data dari hasi uji biokimia dan pengamatan menggunakan mikroskop elektron tersebut memberikan kesimpulan bahwa mitokondria adalah organel tempat terjadinya respirasi seluler.

Referensi:

Reece, Jane B. et al. 2008. Campbell Biology. Edisi Kedelapan Jilid 1. Terjemahan Damaring Tyas Wulandari. Erlangga: Jakarta


Awal Mula Kromosom dikenal sebagai "Agen" Pewarisan Sifat

(Sumber: Source)
Pada waktu Mendel mengemukakan temuannya terkait pola pewarisan sifat,  Mendel belum dikenal konsep “kromosom”. Padahal kromosom memiliki peran penting dalam pola pewarisan sifat. Awalnya kromosom ini dikenal dengan istilah The Nuclear Substance atau jika kita terjemahkan ke Bahasa Indonesia memiliki arti kurang lebih "bahan inti" Konsep mengenai adanya kromosom atau "bahan inti" ini pada pola pewarisan sifat dapat diketahui ketika Schneider mendekskripsikan mengenai proses pembelahan sel secara mitosis. Pada tahun 1887, Weismann menjelaskan teori tentang kromosom sebagai “agen” pewarisan sifat. yaitu:

1. “Bahan inti” yang terdapat  pada inti sel mengatur bentuk dan fungsi dari sel, serta terbagi secara merata pada saat pembelahan mitosis

2. Sel telur mengalami kehilangan sebagian “bahan inti” yang terdapat pada inti sel pada badan polar sebelum terjadinya fertilisasi dan hal tersebut harus digantikan oleh “bahan inti” yang terdapat pada inti sel sperma

3. Reproduksi seksual menyebabkan sel telur dan sel sperma kehilangan sebagian “bahan inti” karena harus ditambahkan pada sel germinal atau sel anakan.

4. Tidak terdapat perbedaan pada “bahan inti” yang terdapat dalam sel telur dan sel sperma.

5. Seleksi reproduksi menjadi tahapan dalam memperoleh variabilitas antara individu dimana seleksi alam dapat bekerja terhadapnya.

Penggunaan istilah "kromosom" digunakan pada tahun 1888 oleh Waldeyer. penggunaan istilah"kromosom" berasal dari bahasa latin krom berarti warna dan soma berarti tubuh. Pada tahun 1910, Thomas Hunt Morgan melakukan penelitian mengenai fungsi dari kromosom dalam pemindahan siat-sifat genetik. Morgan melakukan penelitiannya dengan menggunakan obyek berupa lalat buah (Drosophila melanogaster). Alasan penggunaan organisme ini sebagai obyek dalam penelitian yaitu lalat buah dapat berkembang biak dengan mudah. Selain itu, lalat buah tersebut memiliki empat pasang kromosom, terdiri dari tiga pasang autosom dan satu pasang gonosom. Kromosom dari lalat buah tersebut dapat diamati dengan mudah dengan menggunakan mikroskop cahaya.   

Selanjutnya, kita akan mengenal apa itu kromosom. Kromosom adalah struktur yang tersusun atas asam nukleat dan protein. Kromosom ini dapat ditemukan pada nukleus atau inti sel dari organisme eukriota. Berbeda halnya dengan organisme prokariota, kromosom ditemukan menyebar pada sitoplasma.  Pada fase interfase, kromosom ini terlihat seperti benang halus dan dikenal dengan nama kromatin. Ketika suatu sel memasuki fase metafase, kromatin akan menggulung dan melipat menjadi kromosom.

Jumlah kromosom dalam sel dari tiap spesies adalah tetap. Di dalam sel dari spesies yang sama, jumlah kromosomnya cenderung konstan. Akan tetapi, pada spesies yang berbeda, jumlah kromsosomya akan bervariasi. Adanya perbedaan dari jumlah kromosom antar spesies, dapat membantu ita untuk mengetahui filogeni dan taksomoni dari spesies tersebut.

Referensi:

Irawan, Bambang. 2008. Genetika Molekuler. Surabaya: Airlangga University Press

Reece, Jane B., et al. 2017. Campbell Biology. 11th Ed. New York: Pearson Education

Sumner, Adrian T. 2003. Chromosome Organization and Function. Oxford: Blackwell Publishing

Suryo, 2011. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 

Wednesday, March 17, 2021

Benarkah Virus SARS-CoV-2 dapat Menular Lewat Udara ?

(Sumber: Photo by Markus Spiske from Pexels)

Kemarin, saya telah menuliskan tentang persistensi atau ketahanan coronavirus di udara. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan baru lagi, “Bukankah penyebaran atau penularannya lewat cairan tubuh penderita?”. Saya katakan jawabannya “benar”, bahwa penularannya lewat penderita, artikel tersebut sebenarnya menunjukkan peluang  keberadaan coronavirus berada diudara  di lingkungan klinik kesehatan atau bahkan di rumah sakit  yang merawat penderita covid-19. Untuk lebih jelasnya, akan saya tuliskan di bawah ini.


Coronavirus sebenarnya adalah salah satu kelompok virus. Coronavirus ini dapat menginfeksi hewan dan manusia secara spesifik. Artinya, secara sederhana dapat dipahami bahwa ketika jenis coronavirus menginfeksi hewan, maka virus tersebut tidak akan menginfeksi manusia. Sebagai contoh coronavirus yang menginfeksi hewan adalah virus MHV yang menginfeksi tikus. Sama halnya dengan Covid-19, penyakit ini disebabkan oleh salah satu virus dari coronavirus yang hanya menginfeksi manusia, yakni SARS-Cov-2. Bisa dikatakan kalau SARS-CoV-2 ini adalah virus baru hasil dari proses mutasi yang terjadi di alam.  

Pada tanggal 17 Maret 2020, para ilmuwan menerbitkan sebuah artikel mengenai ketahanan SARS-Cov-2 dalam bentuk aerosol di udara. Perlu diketahui, bahwa aerosol adalah cairan yang berada dalam udara. Virus SARS-CoV-2 dalam bentuk aerosol dapat bertahan di udara selama kurang lebih 3 jam. Sama halnya dengan virus SARS-Cov-1 yang menjadi penyebab penyakit SARS. Dari hasil tersebut, seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf awal, membuat sebagian kalangan berasumsi bahwa virus SARS-CoV-2 dapat menular lewat udara. Nah, “bagaimana kita menaggapinya?” saya lanjutkan penjelasannya.

WHO telah merilis pernyataan di situs resminya bahwa protokol atau alat yang digunakan untuk memodelkan penyebaran aerosol dari virus SARS-CoV-2 tidak mendeskripsikan kondisi nyata di lapangan. Hal tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium. Dengan kata lain,  menemukan bentuk aerosol dari virus SARS-CoV-2 di udara selama kurang lebih 3 jam tidak merefleksikan kondisi klinis di kehidupan sehari-hari.  Hal ini mengindikasikan bahwa penyebaran SARS-CoV-2 ini tidak terjadi melalui udara. Akan tetapi, tetap perlu waspada terhadap penyakit ini dengan menjaga jarak dari orang sekitar (physical distancing) minimal sejauh 1 m seperti yang direkomendasikan oleh ECDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa) dan tidak lupa untuk selalu menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya menggunakan sabun. 

Referensi:

https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/modes-of-transmission-of-virus-causing-covid-19-implications-for-ipc-precaution-recommendations (diakses pada 31 Maret 2020)

van Doremalen, Neltje, Dylan H. Morris, et al. 2020.  Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as compared with SARSCoV-1. The New England Journal of Medicine. doi: 10.1056/NEJMc2004973 

Guo, Yan-Rong, Qing-Dong Cao, et al. 2020. The origin, transmission and clinical therapies on coronavirus disease 2019 (COVID-19) outbreak – an update on the status. Military Medical Research. 7 (11): 1-10

European Centre for Disease Prevention and Control. Considerations relating to social distancing measures in response to COVID-19 – second update. Stockholm: ECDC; 2020.

Bagaimana Penderita COVID-19 Dinyatakan Sembuh ?

Ilustrasi SARS-CoV-2
(Sumber:Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay)

Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas pernyataan yang sempat saya baca di media sosial beberapa hari lalu. Pernyataan itu masih terkait dengan COVID-19 yang masih menjadi “tren” pembicaraan saat ini.  Bagi pembaca yang penasaran bisa lihat gambar di bawah ini dan bagi pembaca yang memiliki perasaan khawatir yang berlebihan boleh tidak melanjutkan bacaannya.

Gambar hasil screen shoot di salah satu platform media sosial
(Sumber: Koleksi Pribadi)

Di gambar itu, pemilik akun tersebut kurang lebih menyatakan bahwa COVID-19 ini belum ditemukan obatnya, sehingga mana mungkin penderita atau pasien COVID-19 ini bisa sembuh. Sekilas, pernyataan ini terlihat “benar”, tapi apakah memang pernyataan ini memang “benar”? Saya akan berusaha mengulasnya pada paragraf selanjutnya.

COVID-19 seperti kita sudah ketahui bersama adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi dari virus SARS-CoV-2. Virus ini menyerang saluran pernapasan melalui ikatan antara reseptor dari virus tersebut (Protein Spike/Spike Protein) dengan reseptor ACE2 (Angiotensin converting enzyme 2). Efek dari infeksi virus SARS-CoV-2 tersebut menimbulkan adanya “badai sitokin” (cytokine storm).



COVID-19 ini memiliki waktu inkubasi, yaitu waktu terinfeksi virus hingga  timbulnya gejala rata-rata berkisar 5-6 hari, namun bisa mencapai 14 hari. Gejala yang muncul tersebut berupa  demam, batuk kering, mudah lelah, sesak napas, nyeri otot. Tidak hanya itu, gejala lain yang bisa muncul karena penyakit COVID019 ini adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, rhinorrhoea (kondisi hidung yang terus mengeluarkan cairan lendir) atau peradangan pada saluran pencernaan. 

Pasien atau penderita yang telah melewati periode inkubasi setelah menjalani tahapan isolasi akan diuji dengan tes swab. Tes swab tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan virus SARS-CoV-2 dalam tubuh pasien. Dari hasil tes swab tersebut, pasien bisa dinyatakan sembuh apabila tidak ditemukan lagi virus yang menjadi penyebab COVID-19. Lantas, bagaimana pasien tersebut dinyatakan sembuh? Jawabannya pasien yang telah menjalani isolasi selama 14 hari dan dinyatakan sembuh menunjukkan bahwa sistem  imun dalam tubuhnya telah berhasil mengatasi virus SARS-CoV-2 sehingga virus tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi dalam tubuh pasien. Jadi bukan berarti pasien sembuh dari COVID-19 adalah berita bohong atau hoaks. 

Referensi:

Huang C, Wang Y, Li X et al.: Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. Lancet 2020; 395: 497-506.

Sachin Maggo, et.al. 2020. Cytokine storm syndrome in COVID-19: diagnosis and management strategies. International Journal of Health Sciences and Research. 10:140-149

World Health Organization. 2020.  Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)  Situation Report-73. Available from:  https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200402-sitrep-73-covid-19.pdf?sfvrsn=5ae25bc7_4

Kariotipe Kromosom Sebuah Cara untuk Melihat Kromosom

Ilustrasi Kromosom
(Sumber: Source)
“Bagaimana cara kita mendapatkan gambaran kromosom dalam tubuh kita?” begitulah kira-kira pertanyaan yang sempat muncul di pikiran saya ketika ingin melihat kromosom, sebuah substansi yang menjadi tempat bagi “perpustakaan” genetis di tubuh kita. Ternyata jawabannya dengan melakukan suatu analisis yang disebut sebagai analisis kariotipe. Lalu ‘”apa sebenarnya kariotipe itu?” saya akan jelaskan pada bagian berikutnya. 

Kariotipe adalah gambaran keseluruhan kromosom yang ada dalam suatu sel atau individu, biasanya yang digunakan adalah kromosom pada stadium metafase. Pengamatan atau analisis  kariotipe ini ternyata penting untuk dilakukan karena memliki banyak kegunaan. Analisis kariotipe ini dapat dugunakan sebagai studi perbandingan antar genus, antar spsies, bahkan untuk sampai pada tingkatan takson di bawah spesies. Variasi dari kariotipe tidak hanya dapat teramati pada spesies yang berbeda, bahkan dalam satu spesies yang sama dapat terlihat adanya variasi kariotipe dari individu jantan dan betina, 

Pengamatan terhadap kariotipe kromosom ketika kromosom memasuki tahap pembelahan sel metafasee. Metafase sendiri adalah salah satu tahap dalam tahap pembelahan sel. Pada tahap ini, kromosom telah menggandakan dirinya menjadi dua kromatid yang bersatu pada bagian sentromer. Dalam proses pembelahan selanjutnya kromatid akan ditarik ke kutub pembelahan sehingga memisah.

Pengamatan Kariotipe Kromosom
Pada pembuatan kariotipe, sel dirangsang agar membelah dan kemudian dihentikan. Pemisahan kromatid dicegah dengan cara pemberian kolkisin. Pemberian kolkisin akan memotong benang sitoplasmik sehingga kromatid tidak terpisah. Oleh karena itu, dalam kariotipe kromosom tidak tampak tunggal melainkan tersusun dari dua kromatid yang berhimpitan. Sel yang sudah mebelah diri diberi larutan hipotonis sehingga sel membengkak, selanjutnya difiksasi denagn methanol dan asam cuka galsial, diteteskan pada gelas benda, dikeringkan dan selanjutnya diwarnai. Berbagai macam teknik pewarnaan yang menghasilkan pola yang berbeda. Salah satu teknik pewarnaan menggunakan zat warna Giemsa. Teknik pewarnaan kromosom yang lain dapat juga menggunakan zat warna Kuinakrin. Setiap teknik pewarnaan tersebut memberikan efek yang berbeda ketika diamati melalui mikroskop. Pewarnaan ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan kariotipe di bawah mikroskop. 


Referensi:

Aristya, Ganies Riza, dkk. 2015. Karakterisasi Kromosom Tumbuhan dan Hewan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Irawan, Bambang. 2008. Genetika Molekuler. Surabaya: Airlangga University Press